Selasa, 30 Juni 2020

Jokowi Marah-marah, Fadli Zon: Yang Salah Menterinya Atau Presiden?


DEMOKRASI.CO.ID - Kemarahan Presiden Joko Widodo kepada para menterinya terkait penanganan pandemik Covid-19 menjadi pertanyaan besar bagi Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon.
Alih-alih memunculkan citra tegas, kemarahan Presiden Jokowi kepada bawahannya justru makin mengaburkan tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) antaran presiden dan menteri dalam penangana Covid-19.

"Kinerja menteri apa kinerja presiden?" tanya Fadli saat menjadi pembicara ILC bertajuk 'Presiden Marah: Menteri Mana Direshuffle', Selasa malam (30/6).

Pada dasarnya, Fadli mengibaratkan posisi Jokowi sebagai dirijen dalam suatu orkestra. Selaku pimpinan orkestra, harusnya Jokowi bisa mengakomodir menterinya.

Terlebih beberapa kali presiden menegaskan bahwa tak ada visi-misi menteri, melainkan hanya ada visi-misi presiden. "Kalau itu terjadi, siapa yang salah, menteri atau presiden?" kritiknya.

Berbagai hal disinggung presiden saat pidato Sidang Kabinet 18 Juni 2020 lalu yang sukses menyedot perhatian publik. Kemarahan Jokowi makin menarik perhatian ketika ada ancaman mereshuffle kabinet hingga kemungkinan menghapus sebuah lembaga.

Namun bagi Fadli Zon, yang diperlukan dalam menghadapi pandemik Covid-19 adalah masalah kepemimpinan. "Intinya masalah kepemimpinan. Ketika dihadapakan Covid, dihadapkan national leadership," tutupnya. (Rmol)


Sumber:https://ift.tt/2AjeAyN

Hari Ini BPJS Kesehatan Naik, Haris Rusly Moti: Pemerintah Bermental Kolonial!


DEMOKRASI.CO.ID - Iuran BPJS Kesehatan akan resmi naik pada Rabu (1/7) hari ini.
Hal itu sesuai dengan amanah Peraturan Presiden (Perpres) 64/2020, di mana kenaikan iuran JKN-KIS kan diberlakukan bagi Peserta Bukan Penerima Upah (PBPU) dan Bukan Pekerja (BP).

Kebijakan kenaikan iuran jaminan kesehatan dari negara ini pun hingga kini masih ditentang masyarakat. Terlebih saat ini rakyat sedang dihadapkan dengan pandemik Covid-19 yang tak kunjung surut.

Menurut aktivis Petisi 28, Haris Rusly Moti, kengototan pemerintah untuk menaikkan iuran BPJS Kesehatan tak ubahnya seperti zaman penjajahan.

"Pemerintah kita ini benar-benar berpikiran dan bermental kolonial," kritik Haris Rusly di akun Twitter pribadinya, Selasa (30/6).

Seperti diketahui, per 1 Juli 2020, iuran JKN-KIS bagi peserta PBPU dan BP disesuaikan menjadi Rp 150.000 untuk kelas 1, Rp 100.000 untuk kelas 2, dan Rp 42.000 untuk kelas 3.

Khusus kelas 3 hingga akhir tahun 2020 ini, peserta hanya membayar sebesar Rp 25.500, sisa 16.500 dibiayai oleh pemerintah. (Rmol)


Sumber:https://ift.tt/3eNtFHP

Presiden Marah-marah, Dahlan Iskan: Lima Tahun Tidak Cukup Wujudkan Cita-cita Besar


DEMOKRASI.CO.ID - Kemarahan yang disampaikan Presiden Joko Widodo kepada anggita kabinetnya dalam penanganan pandemik Covid-19 wajar mengingat masa jabatan sang presiden tinggal 3,5 tahun lagi.

Demikian disampaikan mantan Menteri BUMN, Dahlan Iskan dalam acara ILC TVOne bertajuk 'Presiden Marah: Menteri Mana Direshuffle', Selasa malam (30/6).

"Jadi beliau ingin percepatan, tetapi sekali lagi bahwa waktu berjalan terus dan seiring masa jabatan lima tahun tidak cukup untuk mewujudkan cita-cita besar," kata Dahlan Iskan.

Dahlan menyinggung penyerapan dana kesehatan untuk percepatan penanganan Covid-19, yang disebut Presiden Jokowi baru terserap sekitar 1,53 persen dari total sebesar Rp 87,5 triliun.

Lebih lanjut, dia mengatakan saat ini hanya sedikit sektor yang bisa menunjukkan prestasi pasca pandemik. Semisal sektor pertanian dan teknologi informasi. Sektor pertanian dianggap paling mampu berprestasi, terutama untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya krisis pangan berlanjut yang terjadi di masa mendatang.

"Kedua masih ada teknologi dan komunikasi. Jadi apa yang bisa dilakukan oleh kementerian teknologi? Karena pada zaman seperti ini maka sistem komunikasi teknologi sangat diharapkan bisa menggenjot kinerja itu," tandasnya. (*)


Sumber:https://ift.tt/2AiQV1z

Diduga Langgar Kode Etik, Enam Anggota KPU, Termasuk Ketua Arief Budiman Akan Disidang


DEMOKRASI.CO.ID - Sejumlah komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) akan menjalani sidang pemeriksaan dugaan pelanggaran kode etik pemilu (KEPP).

Sidang pelanggaran kode etik akan digelar Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) nomor perkara 50-PKE-DKPP/VI/2020 pada Rabu esok (1/7), sekitar pukul 09.00 WIB terhadap Ketua KPU RI, Arief Budiman, Komisioner KPU Pramono Ubaid Tanthowi, Ilham Saputra, Viryan Aziz, Hasyim Asy'ari sebagai teradu I-V, dan anggota KPU Sumbawa Barat Daya Hyronimus Malelak sebagai teradu VI yang semuanya diadukan oleh Emanuel Eka.

Dalam pokok aduannya, Emanuel menyebut Teradu I-V telah melakukan uji kepatutan dan kelayakan terhadap Calon Anggota KPU Kabupaten Sumba Barat Daya Periode 2019-2024 yang bukan merupakan hasil rekomendasi dari tim seleksi.

Teradu I-V juga telah menetapkan dan melantik Teradu VI sebagai Anggota KPU Kabupaten Sumba Barat Daya Periode 2019-2024 meskipun diduga tidak memenuhi syarat dan tidak termasuk dalam nama yang ditetapkan oleh tim seleksi.

Menurut Emanuel, Teradu VI tidak memenuhi syarat dilantik sebagai Anggota KPU Kabupaten Sumba Barat Dayak karena pernah aktif dalam tim sukses salah satu pasangan calon dalam Pilkada Sumba Barat Daya Tahun 2018.

Sekretaris DKPP, Bernad Dermawan Sutrisno mengatakan, agenda sidang yang akan dipimpin Ketua DKPP ini mendengarkan keterangan pengadu dan teradu serta saksi-saksi atau pihak terkait yang dihadirkan.

“DKPP telah memanggil semua pihak secara patut, yakni lima hari sebelum sidang pemeriksaan digelar,” kata Bernad melalui keterangan resminya, Selasa (30/6).

Sesuai Surat Keputusan (SK) 016/SK/K.DKPP/SET.03/V/2020 tentang Tata Cara Pelaksanaan Sidang Pemeriksaan DKPP Secara Virtual pada Masa Darurat Penanganan Pandemik Covid-19, sidang akan dilakukan secara virtual dengan Ketua Majelis berada di Ruang Sidang DKPP di Jakarta dan para pihak berada di daerah mereka masing-masing.

“Sehari sebelum pelaksanaan sidang, DKPP akan mengajak semua pihak untuk melakukan uji coba sidang virtual untuk meminimalisir hambatan teknis saat sidang nanti,” ujar Bernad.

Dia menambahkan, sidang ini akan ditayangkan langsung melalui akun media sosial DKPP.

“Sidang kode etik DKPP bersifat terbuka, artinya masyarakat dan media dapat menyaksikan langsung jalannya sidang pemeriksaan atau melalui live streaming Facebook DKPP, @medsosdkpp dan akun Youtube DKPP,” tutupnya. (*)


Sumber:https://ift.tt/3ggYO6K

Presiden Pecat 5 Menteri Sekaligus, Termasuk Menteri Pertahanan dan Mendagri


DEMOKRASI.CO.ID - Presiden Guinea-Bissau Umaro Sissoco Embalo melakukan reshuffle kabinet di tengah meluasnya pandemi COVID-19, Minggu (28/6). Tidak tanggung-tanggung, dia mencopot lima menteri sekaligus, termasuk menteri dalam negeri dan menteri pertahanan.

Embalo tidak mengungkapkan alasan pemecatan para menteri tersebut, yang seluruhnya merupakan anggota partai MADEM-15 pimpinan Embalo atau partai-partai yang loyal kepada presiden.

Langkah tersebut memperparah ketidakpastian politik di negara kecil Afrika Barat tersebut, di mana Embalo dinyatakan sebagai pemenang pemilihan presiden pada Desember lalu dan Domingos Simoes Pereira dari partai PAIGC berada di urutan kedua.

"Itu merupakan strategi Umaro Sissoco Embalo untuk mendapatkan mayoritas di parlemen," demikian situs pro-PAIGC Ditadura de Consenso melalui analisis daring menyusul adanya dekret tersebut.

Pemecatan sejumlah pembantu presiden itu terjadi menjelang sidang parlemen, ketika para anggota dewan diperkirakan akan memperdebatkan tentang aliansi politik mana yang berhak memerintah negara.

Gejolak pascapemilihan memendam harapan bahwa pemilu akan mengakhiri kekacauan kelembagaan selama bertahun-tahun.

Mantan presiden Jose Mario Vaz melakukan bongkar pasang tujuh perdana menteri dalam lima tahun di tengah konflik dengan PAIGC, yang mengendalikan sebagian besar kursi di parlemen. (*)


Sumber:https://ift.tt/3gf0cqO

Hari Ini BPJS Kesehatan Naik, Haris Rusly Moti: Pemerintah Bermental Kolonial!


DEMOKRASI.CO.ID - Iuran BPJS Kesehatan akan resmi naik pada Rabu (1/7) hari ini.
Hal itu sesuai dengan amanah Peraturan Presiden (Perpres) 64/2020, di mana kenaikan iuran JKN-KIS kan diberlakukan bagi Peserta Bukan Penerima Upah (PBPU) dan Bukan Pekerja (BP).

Kebijakan kenaikan iuran jaminan kesehatan dari negara ini pun hingga kini masih ditentang masyarakat. Terlebih saat ini rakyat sedang dihadapkan dengan pandemik Covid-19 yang tak kunjung surut.

Menurut aktivis Petisi 28, Haris Rusly Moti, kengototan pemerintah untuk menaikkan iuran BPJS Kesehatan tak ubahnya seperti zaman penjajahan.

"Pemerintah kita ini benar-benar berpikiran dan bermental kolonial," kritik Haris Rusly di akun Twitter pribadinya, Selasa (30/6).

Seperti diketahui, per 1 Juli 2020, iuran JKN-KIS bagi peserta PBPU dan BP disesuaikan menjadi Rp 150.000 untuk kelas 1, Rp 100.000 untuk kelas 2, dan Rp 42.000 untuk kelas 3.

Khusus kelas 3 hingga akhir tahun 2020 ini, peserta hanya membayar sebesar Rp 25.500, sisa 16.500 dibiayai oleh pemerintah. (Rmol)


source https://www.demokrasi.co.id/2020/07/hari-ini-bpjs-kesehatan-naik-haris.html

Presiden Marah-marah, Dahlan Iskan: Lima Tahun Tidak Cukup Wujudkan Cita-cita Besar


DEMOKRASI.CO.ID - Kemarahan yang disampaikan Presiden Joko Widodo kepada anggita kabinetnya dalam penanganan pandemik Covid-19 wajar mengingat masa jabatan sang presiden tinggal 3,5 tahun lagi.

Demikian disampaikan mantan Menteri BUMN, Dahlan Iskan dalam acara ILC TVOne bertajuk 'Presiden Marah: Menteri Mana Direshuffle', Selasa malam (30/6).

"Jadi beliau ingin percepatan, tetapi sekali lagi bahwa waktu berjalan terus dan seiring masa jabatan lima tahun tidak cukup untuk mewujudkan cita-cita besar," kata Dahlan Iskan.

Dahlan menyinggung penyerapan dana kesehatan untuk percepatan penanganan Covid-19, yang disebut Presiden Jokowi baru terserap sekitar 1,53 persen dari total sebesar Rp 87,5 triliun.

Lebih lanjut, dia mengatakan saat ini hanya sedikit sektor yang bisa menunjukkan prestasi pasca pandemik. Semisal sektor pertanian dan teknologi informasi. Sektor pertanian dianggap paling mampu berprestasi, terutama untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya krisis pangan berlanjut yang terjadi di masa mendatang.

"Kedua masih ada teknologi dan komunikasi. Jadi apa yang bisa dilakukan oleh kementerian teknologi? Karena pada zaman seperti ini maka sistem komunikasi teknologi sangat diharapkan bisa menggenjot kinerja itu," tandasnya. (*)


source https://www.demokrasi.co.id/2020/07/presiden-marah-marah-dahlan-iskan-lima.html

Diduga Langgar Kode Etik, Enam Anggota KPU, Termasuk Ketua Arief Budiman Akan Disidang


DEMOKRASI.CO.ID - Sejumlah komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) akan menjalani sidang pemeriksaan dugaan pelanggaran kode etik pemilu (KEPP).

Sidang pelanggaran kode etik akan digelar Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) nomor perkara 50-PKE-DKPP/VI/2020 pada Rabu esok (1/7), sekitar pukul 09.00 WIB terhadap Ketua KPU RI, Arief Budiman, Komisioner KPU Pramono Ubaid Tanthowi, Ilham Saputra, Viryan Aziz, Hasyim Asy'ari sebagai teradu I-V, dan anggota KPU Sumbawa Barat Daya Hyronimus Malelak sebagai teradu VI yang semuanya diadukan oleh Emanuel Eka.

Dalam pokok aduannya, Emanuel menyebut Teradu I-V telah melakukan uji kepatutan dan kelayakan terhadap Calon Anggota KPU Kabupaten Sumba Barat Daya Periode 2019-2024 yang bukan merupakan hasil rekomendasi dari tim seleksi.

Teradu I-V juga telah menetapkan dan melantik Teradu VI sebagai Anggota KPU Kabupaten Sumba Barat Daya Periode 2019-2024 meskipun diduga tidak memenuhi syarat dan tidak termasuk dalam nama yang ditetapkan oleh tim seleksi.

Menurut Emanuel, Teradu VI tidak memenuhi syarat dilantik sebagai Anggota KPU Kabupaten Sumba Barat Dayak karena pernah aktif dalam tim sukses salah satu pasangan calon dalam Pilkada Sumba Barat Daya Tahun 2018.

Sekretaris DKPP, Bernad Dermawan Sutrisno mengatakan, agenda sidang yang akan dipimpin Ketua DKPP ini mendengarkan keterangan pengadu dan teradu serta saksi-saksi atau pihak terkait yang dihadirkan.

“DKPP telah memanggil semua pihak secara patut, yakni lima hari sebelum sidang pemeriksaan digelar,” kata Bernad melalui keterangan resminya, Selasa (30/6).

Sesuai Surat Keputusan (SK) 016/SK/K.DKPP/SET.03/V/2020 tentang Tata Cara Pelaksanaan Sidang Pemeriksaan DKPP Secara Virtual pada Masa Darurat Penanganan Pandemik Covid-19, sidang akan dilakukan secara virtual dengan Ketua Majelis berada di Ruang Sidang DKPP di Jakarta dan para pihak berada di daerah mereka masing-masing.

“Sehari sebelum pelaksanaan sidang, DKPP akan mengajak semua pihak untuk melakukan uji coba sidang virtual untuk meminimalisir hambatan teknis saat sidang nanti,” ujar Bernad.

Dia menambahkan, sidang ini akan ditayangkan langsung melalui akun media sosial DKPP.

“Sidang kode etik DKPP bersifat terbuka, artinya masyarakat dan media dapat menyaksikan langsung jalannya sidang pemeriksaan atau melalui live streaming Facebook DKPP, @medsosdkpp dan akun Youtube DKPP,” tutupnya. (*)


source https://www.demokrasi.co.id/2020/07/diduga-langgar-kode-etik-enam-anggota.html

Presiden Pecat 5 Menteri Sekaligus, Termasuk Menteri Pertahanan dan Mendagri


DEMOKRASI.CO.ID - Presiden Guinea-Bissau Umaro Sissoco Embalo melakukan reshuffle kabinet di tengah meluasnya pandemi COVID-19, Minggu (28/6). Tidak tanggung-tanggung, dia mencopot lima menteri sekaligus, termasuk menteri dalam negeri dan menteri pertahanan.

Embalo tidak mengungkapkan alasan pemecatan para menteri tersebut, yang seluruhnya merupakan anggota partai MADEM-15 pimpinan Embalo atau partai-partai yang loyal kepada presiden.

Langkah tersebut memperparah ketidakpastian politik di negara kecil Afrika Barat tersebut, di mana Embalo dinyatakan sebagai pemenang pemilihan presiden pada Desember lalu dan Domingos Simoes Pereira dari partai PAIGC berada di urutan kedua.

"Itu merupakan strategi Umaro Sissoco Embalo untuk mendapatkan mayoritas di parlemen," demikian situs pro-PAIGC Ditadura de Consenso melalui analisis daring menyusul adanya dekret tersebut.

Pemecatan sejumlah pembantu presiden itu terjadi menjelang sidang parlemen, ketika para anggota dewan diperkirakan akan memperdebatkan tentang aliansi politik mana yang berhak memerintah negara.

Gejolak pascapemilihan memendam harapan bahwa pemilu akan mengakhiri kekacauan kelembagaan selama bertahun-tahun.

Mantan presiden Jose Mario Vaz melakukan bongkar pasang tujuh perdana menteri dalam lima tahun di tengah konflik dengan PAIGC, yang mengendalikan sebagian besar kursi di parlemen. (*)


source https://www.demokrasi.co.id/2020/07/presiden-pecat-5-menteri-sekaligus_1.html

Ribuan Kasus Baru Covid-19 Terus Muncul di AS, Trump: Saya Benar-Benar Sangat Marah pada China!

Ribuan kasus baru Covid-19 terus bertambah di AS. Fakta tersebut membuat Donald Trump kembali melontarkan sindiran keras ke China.

source https://www.inews.id/news/internasional/ribuan-kasus-baru-covid-19-terus-muncul-di-as-trump-saya-benar-benar-sangat-marah-pada-china

KPK Tahan Tersangka Kasus Dugaan Korupsi RTH Bandung

KPK menahan tersangka DSG yang merupakan wiraswasta dalam kasus dugaan korupsi pengadaan lahan RTH di Bandung. DSG menjadi tersangka sejak 21 November 2020.

source https://www.inews.id/news/nasional/kpk-tahan-tersangka-kasus-dugaan-korupsi-rth-bandung

Israel Tunda Pencaplokan Wilayah Tepi Barat, Ini Alasannya

Pemerintah Israel memutuskan menunda pencaplokan sebagian wilayah Tepi Barat. Israel memandang rencana tersebut membutuhkan banyak pertimbangan.

source https://www.inews.id/news/internasional/israel-tunda-pencaplokan-wilayah-tepi-barat-ini-alasannya

Residivis Kasus Narkoba Ditangkap, Edarkan Sabu dalam Bungkus Makanan Ringan

SA, residivis kasus narkoba kembali ditangkap saat akan bertransaksi narkoba. Pelaku lihai menyembunyikan sabu siap edar dalam bungkus makanan ringan.

source https://www.inews.id/news/megapolitan/residivis-kasus-narkoba-ditangkap-edarkan-sabu-dalam-bungkus-makanan-ringan

KPK Tahan Tersangka Kasus Dugaan Korupsi RTH Bandung

KPK menahan tersangka DSG yang merupakan wiraswasta dalam kasus dugaan korupsi pengadaan lahan RTH di Bandung. DSG menjadi tersangka sejak 21 November 2020.

Sumber: IFTTT

Israel Tunda Pencaplokan Wilayah Tepi Barat, Ini Alasannya

Pemerintah Israel memutuskan menunda pencaplokan sebagian wilayah Tepi Barat. Israel memandang rencana tersebut membutuhkan banyak pertimbangan.

Sumber: IFTTT

Residivis Kasus Narkoba Ditangkap, Edarkan Sabu dalam Bungkus Makanan Ringan

SA, residivis kasus narkoba kembali ditangkap saat akan bertransaksi narkoba. Pelaku lihai menyembunyikan sabu siap edar dalam bungkus makanan ringan.

Sumber: IFTTT

DPR Minta BPK Ikut Awasi Penggunaan Anggaran Covid-19

DPR meminta BPK ikut mengawasi penggunaan anggaran percepatan penanganan pandemi virus corona (Covid-19). Pemerintah menggelontorkan Rp677,2 triliun.

Sumber: IFTTT

DPR Minta BPK Ikut Awasi Penggunaan Anggaran Covid-19

DPR meminta BPK ikut mengawasi penggunaan anggaran percepatan penanganan pandemi virus corona (Covid-19). Pemerintah menggelontorkan Rp677,2 triliun.

source https://www.inews.id/news/nasional/dpr-minta-bpk-ikut-awasi-penggunaan-anggaran-covid-19

2 Balita Jadi Korban Jambret di Tanjung Priok

Aksi penjambretan yang menyasar balita terjadi di Tanjung Priok. Aksi dua pelaku terekam CCTV dan viral di media sosial.

source https://www.inews.id/news/megapolitan/2-balita-jadi-korban-jambret-di-tanjung-priok

Ledakan Kasus Baru Covid-19 di Penjara AS, Lebih dari 1.000 Napi Terkonfirmasi Positif

Kasus Covid-19 baru meledak di salah satu penjara tertua di California, San Quentin. Lebih dari 1.000 narapidana dinyatakan positif mengidap virus tersebut.

source https://www.inews.id/news/internasional/ledakan-kasus-baru-covid-19-di-penjara-as-lebih-dari-1000-napi-terkonfirmasi-positif

Jakarta Diprediksi Cerah Hari Ini, Kepulauan Seribu Hujan Rabu Malam

BMKG memprediksi semua wilayah Jakarta cerah berawan dari siang hingga malam hari ini, Rabu (1/7/2020).

source https://www.inews.id/news/megapolitan/jakarta-diprediksi-cerah-hari-ini-kepulauan-seribu-hujan-rabu-malam

HUT Bhayangkara ke-74, Tenaga Medis di RS Darurat Wisma Atlet Gratis Bikin SIM

Tenaga Medis di RS Darurat Wisma Atlet gratis bikin SIM baru dan perpanjangan. Program itu diberikan dalam rangka perayaan HUT Bhayangkara ke-74.

source https://www.inews.id/news/megapolitan/hut-bhayangkara-ke-74-tenaga-medis-di-rs-darurat-wisma-atlet-gratis-bikin-sim

HUT ke-74 Bhayangkara, Susaningtyas: Tugas Polri Makin Kompleks di Tengah Pandemi

Polri berulang tahun ke-74, Rabu (1/7/2020). Pengamat Militer dan Intelijen Susaningtyas Kertopati menilai tugas-tugas Polri semakin kompleks di masa pandemi.

source https://www.inews.id/news/nasional/hut-ke-74-bhayangkara-susaningtyas-tugas-polri-makin-kompleks-di-tengah-pandemi

Senin, 29 Juni 2020

Tubagus Chaeri Wardana Dituntut 6 Tahun Penjara



DEMOKRASI.CO.ID - Adik kandung mantan Gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah, Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan dituntut 6 tahun penjara dan denda Rp 5 miliar subsider 1 tahun kurungan.
Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) meyakini Wawan telah melakukan tindak pidana korupsi pengadaan Alat Kesehatan (Alkes) Rumah Sakit Rujukan Provinsi Banten pada Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten APBD TA 2012 dan APBD-P TA 2012 dan proyek pengadaan Alkes pada Dinkes Kota Tangerang Selatan (Tangsel) serta Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

"Menyatakan terdakwa Tubagus Chaeri Wardana telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi dan tindak pidana pencucian uang sebagaimana dakwaan kesatu alternatif kedua, dan dakwaan kumulatif kedua alternatif pertama dan dakwaan ketiga," ucap Jaksa KPK di Pengadilan Tipikor, Senin malam (29/6).

Dalam tuntutan ini, Jaksa KPK mempertimbangkan hal yang memberatkan dan meringankan tuntutan.

Hal yang memberatkan tuntutan ialah Wawan tidak mendukung program pemerintah dalam mewujudkan pemerintahan yang bersih dari KKN, berbelit-belit di depan persidangan, dan tidak mengakui perbuatannya.

Sedangkan hal yang meringankan, Wawan bersikap sopan di persidangan, mempunyai tanggungan keluarga, sedang menjalani pidana penjara selama 7 tahun dan akan diproses hukum dalam perkara suap Lapas Sukamiskin.

Dalam putusan ini, Jaksa meyakini suami dari Walikota Tangerang Selatan, Airin Rachmi Diany ini selaku pemilik PT Balipasific Pragama (BPP) melakukan korupsi pengadaan alat kedokteran RS Rujukan Provinsi Banten pada APBD TA 2012 dan APAPBD-P TA 2012 dan pengadaan Alkes pada Dinkes Kota Tangsel yang merugikan keuangan negara hingga Rp 94,317 miliar.

Selain itu, dalam kurun waktu 2005-2012 melalui perusahaan yang dimilikinya dan perusahaan lain yang terafiliasi mendapatkan keuntungan dari proyek atau penghasilan tidak sah dari beberapa proyek di beberapa SKPD provinsi Banten dan sekitarnya dengan total keuntungan mencapai Rp 1,724 triliun.

Wawan juga diyakini melakukan tindak pidana pencucian uang dalam kurun waktu 2005-2010 sebesar Rp 100.731.456.119 dan dalam kurun waktu 2010-2019 mencapai Rp 479.045.244.180 dalam mata uang rupiah dan mata uang asing.

Wawan diduga melanggar Pasal 3 Juncto Pasal 18 UU 31/1999 tentang Pemberantasan Tipikor sebagaimana telah diubah dengan UU 20/2001 tentang perubahan atas UU 31/1999 tentang Pemberantasan Tipikor Juncto Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHP Juncto Pasal 65 Ayat 1 KUHP.

Sedangkan dalam perkara TPPU, Wawan diduga melanggar Pasal 3 UU 8/2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan TPPU Juncto Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHP Juncto Pasal 65 Ayat 1 KUHP dan Pasal 3 Ayat 1 huruf a, c dan g UU 25/2003 tentang perubahan atas UU 15/2002 tentang TPPU Juncto Pasal 65 Ayat 1 KUHP. (Rmol)


Sumber:https://ift.tt/2Vq1c3l

Nadiem Makarim Paksa Anak Didik Usia Muda 'Nganggur', Siapa Pembisiknya?



DEMOKRASI.CO.ID - Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) di DKI Jakarta tahun ajaran 2020 menjadi polemik. Banyak orangtua murid protes lantaran gagal mendaftarkan anaknya masuk sekolah karena sistem zonasi usia yang mengutamakan usia lebih tua.
Dunia pendidikan kini berduka karena aturan yang dibuat Menteri Nadiem Makarim kacau balau dengan dipaksakan zonasi usia dan anak peserta didik usia tua lebih diutamakan dari usia muda, meskipun yang muda bertempat tinggal lebih dekat dengan sekolahnya, aneh bin ajaib. Ada apa?" kritik Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (Laksamana), Samuel F. Silaen dalam keterangan tertulisnya, Senin (29/6).

Pada dasarnya, sistem zonasi wilayah yang sebelumnya sudah diterapkan sudah baik karena siswa tak perlu bersekolah di wilayah yang jauh dari rumah. Sistem ini, kata Silaen, juga baik untuk mencegah aksi tawuran anak di jalanan ketika pulang sekolah.

"Aturan zonasi tersebut berhasil menekan jumlah tauran pasca diberlakukan aturan sistem zonasi, "ungkap Silaen aktivis organisasi kepemudaan itu.

Namun, kebijakan tersebut tercoreng dengan aturan tahun ini, di mana siswa dengan usia lebih tua diutamakan masuk sekolah dibanding yang lebih muda.

Sistem zonasi itu jangan dititik-beratkan soal perkara usia 'tua-muda' tapi jaraknyalah yang menjadi faktor utamanya. Jadi jangan dibalik, kalau dibalik jadi kacau deh," jelasnya.

Oleh karenanya, ia heran dengan kebijakan era Menteri Nadiem ini. Sebagai menteri muda, ia pun mempertanyakan sosok pemberi masukan di balik PPDB berujung polemik ini.

"Pak Menteri ini mendapatkan masukan atau bisikan dari siapa sih? Hingga aturan zonasi itu berubah jadi perkara soal usia 'tua muda' yang jadi perioritas dan tolak ukurnya. Masyarakat dibikin resah dan gelisah oleh aturan zonasi usia itu, anak didik usia muda terpaksa atau dipaksa 'nganggur' oleh aturan Menteri Gojek ini," kritiknya. (Rmol)


Sumber:https://ift.tt/3igngas

Membaca Langkah Extraordinary Presiden



Oleh:Chusnatul Jannah

PAK Jokowi kesal karena kabinet menterinya tak maksimal atasi pandemik corona. Pak Jokowi marah-marah karena para pembantunya itu terlihat biasa-biasa saja menghadapi krisis akibat corona. Video kekesalan dan kemarahan Presiden itu diunggah istana.
Mereka mengunggah video pidato pengantar Presiden Joko Widodo dalam rapat kabinet 18 Juni lalu alias 10 hari sebelumnya. Dalam rapat itu, Jokowi marah-marah terhadap para menteri dan pimpinan lembaga yang tak maksimal bekerja merespons pandemik Corona atau Covid-19.

"Saya harus ngomong apa adanya: enggak ada progres yang signifikan [dalam penanganan (Covid-19), enggak ada," kata Jokowi. (tirto.id, 29/6/2020)

Beberapa kali suara Jokowi sempat meninggi. Jokowi tidak menunjuk siapa menteri yang dimaksud. Hanya saja, ia beberapa kali menyinggung program yang menjadi tanggung jawab Kementerian Kesehatan. Dia menilai kinerja Kementerian Kesehatan lamban.

Kucuran dana untuk Kemenkes Rp 75 triliun itu baru cair sebesar 1,53%. Ia meminta dana itu segera digunakan untuk membayar tunjangan dokter, dokter spesialis, dan tenaga medis lain.

Sementara menurut Haris Azhar, unggahan video itu hanyalah basa-basi Presiden. Ia mengangggap Jokowi melemparkan tanggung jawab pada bawahannya. Menurutnya, Jokowi adalah bos dari seluruh kabinet menteri. Harusnya memberi arahan yang jelas terkait penanganan Covid-19.

Menurut politisi PKS, Mardani Ali Sera, kemarahan Jokowi hanya sia-sia bila tidak dilanjutkan dengan tindakan konkret. Publik juga menilai kekesalan Jokowi itu hanyalah pencitraan belaka. Hal ini terindikasi dari unggahan video setelah 10 hari rapat itu berlalu.

Kesal, marah, dan jengkel. Ekspresi yang biasa diungkapkan Presiden manakala kinerja menterinya tidak beres. Tidak ada progres yang signifikan. Ancaman reshuffle pun mengemuka. Dari video yang diunggah istana, nampaknya sinyal reshuffle makin kuat.

Melihat respons publik yang beraneka komentar, kita bisa menarik poin dari pengantar kekesalan Presiden tersebut:

Pertama, ekspresi kemarahan yang terlambat. Mengapa Presiden baru marah sekarang? Bukankah corona sudah mengancam sejak kasus pertama datang? Terlihat saat itu para menteri meremehkannya dengan candaan. Kenapa saat itu Presiden nampak santai? Sikap guyonan menteri saat itu mestinya dimarahi.

Pak Jokowi bilang ini situasi tidak normal. Lantas, mengapa juga pemerintah ngotot ingin menerapkan new normal? Antara ucapan dan perbuatan tidak sinkron. Lebih terkesan plin-plan.

Sikap plin-plan inilah yang membuat menteri bergerak sendiri. Bikin kebijakan dengan pemikiran mereka sendiri. Sebab, arahan dan instruksi tidak rinci. Terlalu umum dan bias. Asal perintah, pokoknya jalankan. Hal inilah yang menyebabkan penafsiran masing-masing menteri berbeda.

Kedua, kebijakan abu-abu, solusi semu. Sejauh ini, kebijakan yang dikeluarkan Jokowi tampak kelabu. Tak jelas mau dibawa ke mana. Sebentar keluarkan Perppu, sebentar keluar aturan baru. Keluarkan Perppu, Perpres, atau bahkan reshuffle kabinet hanyalah solusi semua. Belum menyentuh akar permasalahan.

Masalah pandemik membutuhkan kebijakan dan solusi yang jelas. Bukan solusi lompat-lompat yang berpindah haluan. Apalah artinya kemarahan bila itu hanya untuk buang badan. Kesalahan menerapkan strategi di awal pandemik itulah masalah utamanya.

Pada akhirnya kesalahan itu menimbulkan masalah-masalah baru yang lebih rumit dan sulit tersolusikan. Negara berada dalam dilema. Selamatkan ekonomi, kesehatan rakyat dipertaruhkan. Prioritaskan kesehatan, ekonomi diambang kehancuran. Bermula dari peremehan, ketidakcermatan, dan kemencla-menclean.

Ketiga, peran para buzzer. Peran buzzer pendukung penguasa memberi pengaruh terhadap kinerja para menteri. Saat publik mengkritik, mereka secara buta membela. Pokoknya pemerintah benar, pengkritik yang salah. Sikap mereka ini sejatinya justru menjerumuskan pemerintah ke lembah kesalahan yang bertumpuk. Puja-puji tiada henti yang akhirnya melenakan kinerja pemerintahan.

Oleh karena itu, semestinya pemerintah menertibkan pendukung fanatiknya. Jangan lagi menutupi kesalahan dalam mengelola negara. Kritik itu dibutuhkan sebagai wujud meluruskan kebijakan. Pujian hanyalah bonus bila kinerja sudah benar.

Keempat, pucuk pimpinan adalah cermin pemerintahan. Saat siswa tak lulus ujian, siapa yang salah? Guru dan pihak sekolah kan. Ketika kerja karyawan tak beres, siapa yang disalahkan? Pimpinan perusahaan tentunya. Bagaimana bila para pembantu tak becus bekerja? Tentu majikannya yang patut disalahkan. Itulah gambaran seorang pimpinan.

Presiden adalah jabatan eksklusif yang tak sebarang orang mendudukinya. Manakala para menteri lambat kinerjanya, siapa yang bersalah? Ya pucuk pimpinan tertinggi negara, yakni Presiden. Kalau menteri bekerja biasa saja, yang berhak menegur adalah Presiden. Inilah pentingnya pengawasan dari pemimpin tertinggi.

Pemimpin yang terpilih dari proses politik demokrasi memang tidak ideal. Ia dipilih karena didukung partai politk dan pemilik modal. Ia dikenal karena dipoles dengan ciitra positif yang terus dipropagandakan. Ia dipilih tidak melalui proses alami. Mereka dipilih karena unggul modal, reputasi publik, dan pencitraan. Bukan karena kualifikasi dan kompetensi yang dimiliki.

Pemimpin pilihan demokrasi dipilih berdasarkan polesan buatan. Maka dari itu, jarang kita jumpai pemimpin ikhlas dan amanah setelah duduk di singgasana. Rata-rata lupa diri karena ingin balas budi. Kebanyakan bagi-bagi kue kekuasaan setelah memenangkan kompetisi.

Jika memang ingin langkah extraordinary, bukan hanya bongkar pasang kabinet atau bikin Perppu. Coba rombak total sistem yang diterapkan hari ini. Itulah langkah extraordinary yang hakiki. Hanya saja, berani atau tidak melakukan extraordinary sistem kapitalisme yang sudah mengakar? 

(Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)



Sumber:https://ift.tt/2Zoigb0

Cara Inovatif Rizal Ramli Bantu Gus Dur Bangun Ekonomi Kerakyatan Dan Keluar Dari Lilitan Utang



DEMOKRASI.CO.ID - Era kepemimpinan Presiden Kiai Haji Abdurrahman Wahid alias Gus Dur menjadi tonggak awal perekonomian Indonesia kembali bangkit dari keterpurukan pasca krisis moneter (Krismon) tahun 1998.
Sebab pada tahun 1999-2001, Gus Dur bersama kabinetnya berhasil memberikan pertumbuhan signifikan untuk Produk Domestik Bruto (PDB), sekaligus keluar dari lilitan hutang luar negeri secara perlahan.

Menteri Koordinator bidang Ekonomi, Keuangan dan Industri (Ekuin) kala itu, Dr. Rizal Ramli, menceritakan keberhasilannya membantu Gus Dur untuk menyelesaikan berbagai persoalan ekonomi tersebut.

"Pada saat itu kami menaikkan gaji pegawai negeri sipil, TNI sama pensiunan 125 persen dalam waktu 21 bulan. Belum pernah terjadi sebelumnya. Akibatnya, golongan menangah ke bawah memiliki uang cash dan 99 persen mereka membelanjakan uangnya di sektor retail," ujar sosok yang kerab disapa RR ini dalam dikusi di Jakarta, Senin (29/6).

Ia juga berhasil menyelesaikan persoalan kredit macet dari program usaha tani yang digagas Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menangah era Presiden BJ Habibie, Adi Sasono dengan jumlah Rp 26 triliun.

RR saat itu mengusulkan kepada Gus Dur untuk membebaskan utang para petani, karena kebanyakan petani hanya memiliki tanah seluas setengah hingga seperempat hektare. Penyitaan tanah dinilainya tidak akan menjadi langkah solutif untuk mengembalikan dana pinjaman.

"Waktu itu petani yang punya setengah hektare, yang punya seperempat hektare diuber-uber, mau ditangkap. Saya bilang sama Gus Dur, 'Gus, kita udah gila apa? Mau nangkep petani yang (utangnya) Rp 3-4 juta, tanahnya cuma seperempat  hektare, setengah hektare. Abis kita sita kita mau apain?' Jadi gimana Rizal (Gus Dur bertanya)? Kita hapusin saja semua, Rp 26 triliun. Loh duitnya gimana nanti buat yang lain (Gus Dur bertanya)? Ya saya carilah, itu urusan saya," RR bercerita.

Usulan tersebut kemudian dilakukan pemerintah dengan menghapus utang para petani. Ujungnya, produktifitas petani meningkat, termasuk daya beli di pedesaan.

Persoalan ekonomi lain yang juga dihadapi RR saat pemerintahan Gus Dur ialah kredit macet untuk usaha kecil, bahkan masuk kategori lima atau sangat macet. Lagi-lagi RR membuat terobosan dengan memanggil seluruh direksi bank BUMN di Indonesia.

"Saya bilang, kalau begitu kita pakai cara terobosan. Kita kasih diskon 50 persen. Saya definisikan yang kecil itu yang di bawah Rp 1 miliar (utangnya) dikasih diskon Rp 500 juta. Tapi sisanya mereka harus bayar dalam 3 bulan," terangnya.

"Dan ternyata, mumpung mereka dibebaskan dari kategori super macet, mereka jual tanahnya, jual mobil, pinjem tetangga, dia lunasin yang Rp 500 juta itu. Dirut Mandiri lapor sama saya, 'Pak kita dapet uang cash Rp 1,5 triliun', BRI Rp 1 triliun, total naik Rp 6-7 triliun. Jadi ada uang fresh lagi di bank yang bisa disalurkan," sambungnya.

Bahkan, persoalan utang luar negeri negara juga sempat diselesaiakan oleh RR. Di mana saat kepemimpinan Gus Dur, Indonesia ditagih utang yang selama 40 tahun ke belakang belum bisa diselesaikan dengan negara Kuwait.

Melalui jalur dimplomasi, mantan Kepala Bulog ini meminta negara Kuwait menurunkan bunga utangnya jika ingin dilunasi. Alhasil Kuwait setuju, san bahkan pemerintah dibangunkan Jembatan Pasopati di Bandung, Jawa Barat sebagai hadiahnya.  

"Kita kerjain (bayar utangnya) lalu dia seneng. Dia bilang, Dr. Ramli saya seneng banget, saya mau kasih kamu hadiah. Saya bilang, saya kuliah lama di Bandung, setiap saya pulang ke Bandung macetnya luar biasa. Saya ingin kamu bangunin saya flyover pasopati. 'Yes sure', dikerajain sama dia, dibangun, gratis tuh," ungkapnya.

Tak hanya dengan Kuwait, RR juga hampir berhasil melunasi utang Indonesia dengan Jerman lewat cara diplomasi. Kala itu, Jerman menagih utang Indonesia dengan menebar isu golbal warming.

Jerman kerjanya kritik kita terus, Indonesia (dibilang) tukang ngerusak lingkungan hidup, hutan dihancurin, kemudian merusak paru-paru dunia. Akhirnya saya ketemu sama menteri keuangan Jerman, kita win-win. Kenapa enggak kamu potong utang Indonesia 600 juta dolar, kita sediakan 300 ribu hektare di Kalimantan untuk konservasi," beber RR.

"Kita lakukan 4 tahap, dia setuju. Dia potong utang Indonesia 600 juta dolar kita sediakan 300 ribu konservasi. Sayangnya pemerintahan Gus Dur jatuh, kita enggak bisa lanjutin 3 tahap berikutnya," demikian Rizal Ramli. (Rmol)


Sumber:https://ift.tt/2BmikQF

Marah Dan Ancam Bubarkan Lembaga, Pak Jokowi Kepleset Omongan?



DEMOKRASI.CO.ID - Pernyataan Presiden Joko Widodo yang tak segan membubarkan lembaga hingga mereshuffle kabinet masih abu-abu. Belum jelas apakah pernyataan tersebut akan benar-benar dilakukan atau hanya salah bicara.
Menit 8.47, soal reshuffle. Karena wewenang presiden, ya lakukan saja," kata Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Jansen Sitindaon di akun Twitternya menanggapi video pidato Jokowi, Senin (29/6).

Jansen yang mengaku mengamati pidato tiap menitnya itu ragu dengan pernyataan Jokowi soal pembubaran lembaga.

"Menit 8.43: bubarkan lembaga. Ini sebenarnya yang menarik, setelah selama ini lembaga-lembaga baru tambah. Itu 'kepleset omongan' atau benar ada lembaga mau dibubarkan Pak? BPIP? KSP? Atau yang lain? Kita tunggu realisasinya," jelas Jansen.

Pertanyaan lain yang perlu dijelaskan yakni mengenai realisasi anggaran kesehatan yang disebut baru tercapai satu persen lebih. Jansen meminta agar pemerintah bisa terbuka soal penggunaan anggaran penanganan Covid-19 yang selama ini terkesan tak transparan.

"Karena dari menit ke menit pidato ini saya amati. Di menit 5.36 bapak katakan, sektor kesehatan dana yang cair baru 1,53%. Di 28 Juni ini sudah berapa persen Pak Jokowi? Apakah ini penyebab rapid test jadi 'komersil'? Jika tak bisa gratis, tolong disubsidi pak," tandasnya. (Rmol)


source https://www.demokrasi.co.id/2020/06/marah-dan-ancam-bubarkan-lembaga-pak.html

Politisi Demokrat: Soeharto Sebelum Jatuh Juga Marahi Menteri-menterinya...



DEMOKRASI.CO.ID - Kemarahan Presiden Joko Widodo terhadap para menterinya dalam penanganan pandemik Covid-19 sukses menyedot perhatian publik.

Ada yang menilai positif reaksi presiden tersebut, namun tak sedikit pula yang bertanya-tanya karena kemarahan presiden yang terjadi saat Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara pada 18 Juni baru dipublikasi sepuluh hari setelahnya.

Namun demikian, menurut politisi Demokrat, Taufik Rendusara, kemarahan kepala negara kepada kabinetnya sebagai hal yang lumrah. Bernada sindiran, ia pun mencontohkan hal serupa yang terjadi pada Presiden kedua RI, Soeharto.

"Soeharto sebelum jatuh, menteri-menterinya juga dimarahin," kata Taufik Rendusara di akun Twitternya, Selasa (30/6).

Ia juga menyinggung ancaman Presiden Jokowi untuk merombak kabinet yang disampaikan dalam sidang kabinet tersebut. Menurutnya, reshuffle bukan menjadi satu-satunya jalan yang dilakukan presiden untuk mengatasi situasi saat ini, di mana sektor ekonomi sedang terpuruk.

"Solusi bukanlah reshuffle. Tapi presiden harus mengambil langkah-langkah politik yang cepat dan tepat di segala bidang sesuai dengan aspirasi yang hidup dan berkembang di tengah-tengah masyarakat di saat pandemik Covid-19," tutupnya. (Rmol)


source https://www.demokrasi.co.id/2020/06/politisi-demokrat-soeharto-sebelum.html

Wacana Pajak Sepeda, Aktivis: Sekalian Juga Kenakan Pajak Menghirup Udara



DEMOKRASI.CO.ID - Di tengah animo masyarakat untuk menggunakan sepeda sebagai sarana transportasi di masa pandemik Covid-19 ini, muncul isu mengenai pengenaan pajak bagi sepeda.
Wacana yang diutarakan Kementerian Perhubungan beberapa waktu lalu itu sontak menuai respons keras dari publik.

Seperti yang disampaikan Aktivis Petisi 28, Haris Rusly Moti. Merasa tak habis pikir dengan wacana tersebut, ia menyampaikan sindiran keras agar pemerintah juga menerapkan pajak terhadap hak hidup masyarakat.

"Sekalian aja, kenakan juga pajak untuk menghirup udara," kata Haris Rusly Moti di akun Twitternya, Selasa (30/6).

Bahkan hal senada juga disampaikan oleh Kepala Badan Komunikasi dan Strategi DPP Partai Demokrat, Ossy Dermawan.

"Lama-lama jalan kaki juga harus bayar pajak," singkat staf pribadi Presiden keenam RI, Susilo Bambang Yudhoyono ini. (Rmol)


source https://www.demokrasi.co.id/2020/06/wacana-pajak-sepeda-aktivis-sekalian.html

Wajar Jokowi Marah-marah, Kerja Minor Menterinya Sudah Kelihatan Sejak Lama



DEMOKRASI.CO.ID - Kemarahan Presiden RI, Joko Widodo kepada menteri-menterinya karena lambatnya pelaksanaan program penanganan Covid-19 dinilai wajar lantaran buruknya kinerja anak buah presiden sudah terlihat sejak lama.
Kami bisa maklumi karena Fraksi PKS sebagai oposisi di parlemen merasakan hal yang sama, dan hal itu sudah kami suarakan sebagai bentuk peringatan dini atau early warning jauh-jauh hari. Karena itu juga yang dirasakan oleh rakyat," kata Ketua Fraksi PKS DPR RI, Jazuli Juwaini dalam keterangan tertulisnya, Senin (29/6).

Sejak awal, PKS mengkritisi lambatnya penetapan status kedaruratan Covid-29. Bahkan lambatnya distribusi APD, kesiapan alat tes, tidak sinkronnya komunikasi dan manajemen bencana, hingga penyaluran bansos yang tidak tepat sasaran tak luput disoroti partai pimpinan Sohibul Iman ini.

Meski demikian, Jazuli Juwaini mengatakan bahwa Fraksi PKS tidak mau mencampuri urusan manajemen kabinet di mana presiden sebagai leadernya.

"Rakyat hanya ingin tahu pemerintah bekerja cepat dan tanggap dalam menangani Covid. Rakyat juga mau pemerintan hadir seutuhnya dalam membantu beban ekonomi rakyat yang terdampak secar ekonomi terutama rakyat kecil dan sektor UMKM," terangnya.

Oleh karenanya, ia berharap kemarahan presiden bisa segera disikapi para pembantunya di kabinet Indonesia Maju agar kinerjanya bisa dirasakan rakyat.
Jadi tidak boleh berhenti hanya marah-marah, rakyat tidak perlu tahu hal itu karena yang penting bagi rakyat pembuktiannya di lapangan," pungkas Jazuli.(rmol)


source https://www.demokrasi.co.id/2020/06/wajar-jokowi-marah-marah-kerja-minor.html

Indef: Watak Kapitalisme Bencana Berimbas Ke PHK Gelombang Kedua



DEMOKRASI.CO.ID - Guncangan ekonomi Indonesia yang diprediksi bakal anjlok di kuartal kedua hingga ke angka -3,8 persen juga akan berimbas ke gelombang PKH jilid dua.
Prediksi tersebut lantaran langkah pemerintah dalam menanggulangi krisis ekonomi di tengah pandemik Covid-19 tidak menunjukkan keberpihakannya kepada rakyat.

"Di tengah situasi pandemik ada krisis ekonomi dan kesehatan, ini banyak sekali oknum-oknum korporat kemudian yang di-backup juga oleh para pejabat-pejabat pemerintah selalu bilang bahwa krisis terjadi karena pandemik," ujar ekonom muda Institue Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira dalam diskusi di Jakarta, Senin (29/6).

Dari konklusinya tersebut, Bhima melihat watak kapitalisme bencana (capitalism disaster) kembali lagi di era kepemimpinan Presiden Joko Widodo, setelah sebelumnya pernah terjadi pada waktu krisis 98 dalam bentuk BLBI, dan krisis keuangan 2008 dengan bentuk skandal Bank Century.

Pada tahun 2020 ini, menurut Bhima varian kapitalisme bencana akan semakin banyak lagi. Sebab hingga sebelum dan sesudah pemerintah menyiapkan anggaran Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), sudah muncul tuntutan dari para pengusaha besar agar diberikan stimulus ekonomi.

"Jadi korporasi sudah antre untuk minta stimulus yang enggak logis. Pak Jokowi sampai kemudian sidak ke mal-mal dan pusat perbelanjaan, tapi ternyata juga enggak ada efeknya. Bahkan gelombang PHK jilid kedua bisa terjadi di semester dua ini," ungkapnya.

Kemungkinan gelombang PHK jilid kedua inilah yang menurut Bhima menjadi salah satu sebab Presiden Joko Widodo jengkel dengan menterinya yang tidak memiliki sense of crises dalam hal pemulihan ekonomi di tengah pandemik corona.

Indonesia seharusnya belajar dari negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, atau Australia yang memberikan stimulus ekonomi kepada korban PHK berupa subsidi gaji atau universal basic income.

Tapi sayangnya, Indonesia sama sekali tidak tampak melakukan itu. Melainkan, kata Bhima, pemerintah mengeluarkan stimulus untuk rakyat lewat kartu prakerja yang hingga saat ini uang pencairannya belum juga dikeluarkan.

"Ketika tidak menerapkan universal basic income? Dicoba dulu pada mereka yang menjadi korban PHK solusinya adalah kartu prakerja. Solusinya adalah uangnya enggak ada," tutupnya. (Rmol)


source https://www.demokrasi.co.id/2020/06/indef-watak-kapitalisme-bencana.html

Tubagus Chaeri Wardana Dituntut 6 Tahun Penjara



DEMOKRASI.CO.ID - Adik kandung mantan Gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah, Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan dituntut 6 tahun penjara dan denda Rp 5 miliar subsider 1 tahun kurungan.
Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) meyakini Wawan telah melakukan tindak pidana korupsi pengadaan Alat Kesehatan (Alkes) Rumah Sakit Rujukan Provinsi Banten pada Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten APBD TA 2012 dan APBD-P TA 2012 dan proyek pengadaan Alkes pada Dinkes Kota Tangerang Selatan (Tangsel) serta Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

"Menyatakan terdakwa Tubagus Chaeri Wardana telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi dan tindak pidana pencucian uang sebagaimana dakwaan kesatu alternatif kedua, dan dakwaan kumulatif kedua alternatif pertama dan dakwaan ketiga," ucap Jaksa KPK di Pengadilan Tipikor, Senin malam (29/6).

Dalam tuntutan ini, Jaksa KPK mempertimbangkan hal yang memberatkan dan meringankan tuntutan.

Hal yang memberatkan tuntutan ialah Wawan tidak mendukung program pemerintah dalam mewujudkan pemerintahan yang bersih dari KKN, berbelit-belit di depan persidangan, dan tidak mengakui perbuatannya.

Sedangkan hal yang meringankan, Wawan bersikap sopan di persidangan, mempunyai tanggungan keluarga, sedang menjalani pidana penjara selama 7 tahun dan akan diproses hukum dalam perkara suap Lapas Sukamiskin.

Dalam putusan ini, Jaksa meyakini suami dari Walikota Tangerang Selatan, Airin Rachmi Diany ini selaku pemilik PT Balipasific Pragama (BPP) melakukan korupsi pengadaan alat kedokteran RS Rujukan Provinsi Banten pada APBD TA 2012 dan APAPBD-P TA 2012 dan pengadaan Alkes pada Dinkes Kota Tangsel yang merugikan keuangan negara hingga Rp 94,317 miliar.

Selain itu, dalam kurun waktu 2005-2012 melalui perusahaan yang dimilikinya dan perusahaan lain yang terafiliasi mendapatkan keuntungan dari proyek atau penghasilan tidak sah dari beberapa proyek di beberapa SKPD provinsi Banten dan sekitarnya dengan total keuntungan mencapai Rp 1,724 triliun.

Wawan juga diyakini melakukan tindak pidana pencucian uang dalam kurun waktu 2005-2010 sebesar Rp 100.731.456.119 dan dalam kurun waktu 2010-2019 mencapai Rp 479.045.244.180 dalam mata uang rupiah dan mata uang asing.

Wawan diduga melanggar Pasal 3 Juncto Pasal 18 UU 31/1999 tentang Pemberantasan Tipikor sebagaimana telah diubah dengan UU 20/2001 tentang perubahan atas UU 31/1999 tentang Pemberantasan Tipikor Juncto Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHP Juncto Pasal 65 Ayat 1 KUHP.

Sedangkan dalam perkara TPPU, Wawan diduga melanggar Pasal 3 UU 8/2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan TPPU Juncto Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHP Juncto Pasal 65 Ayat 1 KUHP dan Pasal 3 Ayat 1 huruf a, c dan g UU 25/2003 tentang perubahan atas UU 15/2002 tentang TPPU Juncto Pasal 65 Ayat 1 KUHP. (Rmol)


source https://www.demokrasi.co.id/2020/06/tubagus-chaeri-wardana-dituntut-6-tahun.html

Nadiem Makarim Paksa Anak Didik Usia Muda 'Nganggur', Siapa Pembisiknya?



DEMOKRASI.CO.ID - Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) di DKI Jakarta tahun ajaran 2020 menjadi polemik. Banyak orangtua murid protes lantaran gagal mendaftarkan anaknya masuk sekolah karena sistem zonasi usia yang mengutamakan usia lebih tua.
Dunia pendidikan kini berduka karena aturan yang dibuat Menteri Nadiem Makarim kacau balau dengan dipaksakan zonasi usia dan anak peserta didik usia tua lebih diutamakan dari usia muda, meskipun yang muda bertempat tinggal lebih dekat dengan sekolahnya, aneh bin ajaib. Ada apa?" kritik Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (Laksamana), Samuel F. Silaen dalam keterangan tertulisnya, Senin (29/6).

Pada dasarnya, sistem zonasi wilayah yang sebelumnya sudah diterapkan sudah baik karena siswa tak perlu bersekolah di wilayah yang jauh dari rumah. Sistem ini, kata Silaen, juga baik untuk mencegah aksi tawuran anak di jalanan ketika pulang sekolah.

"Aturan zonasi tersebut berhasil menekan jumlah tauran pasca diberlakukan aturan sistem zonasi, "ungkap Silaen aktivis organisasi kepemudaan itu.

Namun, kebijakan tersebut tercoreng dengan aturan tahun ini, di mana siswa dengan usia lebih tua diutamakan masuk sekolah dibanding yang lebih muda.

Sistem zonasi itu jangan dititik-beratkan soal perkara usia 'tua-muda' tapi jaraknyalah yang menjadi faktor utamanya. Jadi jangan dibalik, kalau dibalik jadi kacau deh," jelasnya.

Oleh karenanya, ia heran dengan kebijakan era Menteri Nadiem ini. Sebagai menteri muda, ia pun mempertanyakan sosok pemberi masukan di balik PPDB berujung polemik ini.

"Pak Menteri ini mendapatkan masukan atau bisikan dari siapa sih? Hingga aturan zonasi itu berubah jadi perkara soal usia 'tua muda' yang jadi perioritas dan tolak ukurnya. Masyarakat dibikin resah dan gelisah oleh aturan zonasi usia itu, anak didik usia muda terpaksa atau dipaksa 'nganggur' oleh aturan Menteri Gojek ini," kritiknya. (Rmol)


source https://www.demokrasi.co.id/2020/06/nadiem-makarim-paksa-anak-didik-usia.html

Membaca Langkah Extraordinary Presiden



Oleh:Chusnatul Jannah

PAK Jokowi kesal karena kabinet menterinya tak maksimal atasi pandemik corona. Pak Jokowi marah-marah karena para pembantunya itu terlihat biasa-biasa saja menghadapi krisis akibat corona. Video kekesalan dan kemarahan Presiden itu diunggah istana.
Mereka mengunggah video pidato pengantar Presiden Joko Widodo dalam rapat kabinet 18 Juni lalu alias 10 hari sebelumnya. Dalam rapat itu, Jokowi marah-marah terhadap para menteri dan pimpinan lembaga yang tak maksimal bekerja merespons pandemik Corona atau Covid-19.

"Saya harus ngomong apa adanya: enggak ada progres yang signifikan [dalam penanganan (Covid-19), enggak ada," kata Jokowi. (tirto.id, 29/6/2020)

Beberapa kali suara Jokowi sempat meninggi. Jokowi tidak menunjuk siapa menteri yang dimaksud. Hanya saja, ia beberapa kali menyinggung program yang menjadi tanggung jawab Kementerian Kesehatan. Dia menilai kinerja Kementerian Kesehatan lamban.

Kucuran dana untuk Kemenkes Rp 75 triliun itu baru cair sebesar 1,53%. Ia meminta dana itu segera digunakan untuk membayar tunjangan dokter, dokter spesialis, dan tenaga medis lain.

Sementara menurut Haris Azhar, unggahan video itu hanyalah basa-basi Presiden. Ia mengangggap Jokowi melemparkan tanggung jawab pada bawahannya. Menurutnya, Jokowi adalah bos dari seluruh kabinet menteri. Harusnya memberi arahan yang jelas terkait penanganan Covid-19.

Menurut politisi PKS, Mardani Ali Sera, kemarahan Jokowi hanya sia-sia bila tidak dilanjutkan dengan tindakan konkret. Publik juga menilai kekesalan Jokowi itu hanyalah pencitraan belaka. Hal ini terindikasi dari unggahan video setelah 10 hari rapat itu berlalu.

Kesal, marah, dan jengkel. Ekspresi yang biasa diungkapkan Presiden manakala kinerja menterinya tidak beres. Tidak ada progres yang signifikan. Ancaman reshuffle pun mengemuka. Dari video yang diunggah istana, nampaknya sinyal reshuffle makin kuat.

Melihat respons publik yang beraneka komentar, kita bisa menarik poin dari pengantar kekesalan Presiden tersebut:

Pertama, ekspresi kemarahan yang terlambat. Mengapa Presiden baru marah sekarang? Bukankah corona sudah mengancam sejak kasus pertama datang? Terlihat saat itu para menteri meremehkannya dengan candaan. Kenapa saat itu Presiden nampak santai? Sikap guyonan menteri saat itu mestinya dimarahi.

Pak Jokowi bilang ini situasi tidak normal. Lantas, mengapa juga pemerintah ngotot ingin menerapkan new normal? Antara ucapan dan perbuatan tidak sinkron. Lebih terkesan plin-plan.

Sikap plin-plan inilah yang membuat menteri bergerak sendiri. Bikin kebijakan dengan pemikiran mereka sendiri. Sebab, arahan dan instruksi tidak rinci. Terlalu umum dan bias. Asal perintah, pokoknya jalankan. Hal inilah yang menyebabkan penafsiran masing-masing menteri berbeda.

Kedua, kebijakan abu-abu, solusi semu. Sejauh ini, kebijakan yang dikeluarkan Jokowi tampak kelabu. Tak jelas mau dibawa ke mana. Sebentar keluarkan Perppu, sebentar keluar aturan baru. Keluarkan Perppu, Perpres, atau bahkan reshuffle kabinet hanyalah solusi semua. Belum menyentuh akar permasalahan.

Masalah pandemik membutuhkan kebijakan dan solusi yang jelas. Bukan solusi lompat-lompat yang berpindah haluan. Apalah artinya kemarahan bila itu hanya untuk buang badan. Kesalahan menerapkan strategi di awal pandemik itulah masalah utamanya.

Pada akhirnya kesalahan itu menimbulkan masalah-masalah baru yang lebih rumit dan sulit tersolusikan. Negara berada dalam dilema. Selamatkan ekonomi, kesehatan rakyat dipertaruhkan. Prioritaskan kesehatan, ekonomi diambang kehancuran. Bermula dari peremehan, ketidakcermatan, dan kemencla-menclean.

Ketiga, peran para buzzer. Peran buzzer pendukung penguasa memberi pengaruh terhadap kinerja para menteri. Saat publik mengkritik, mereka secara buta membela. Pokoknya pemerintah benar, pengkritik yang salah. Sikap mereka ini sejatinya justru menjerumuskan pemerintah ke lembah kesalahan yang bertumpuk. Puja-puji tiada henti yang akhirnya melenakan kinerja pemerintahan.

Oleh karena itu, semestinya pemerintah menertibkan pendukung fanatiknya. Jangan lagi menutupi kesalahan dalam mengelola negara. Kritik itu dibutuhkan sebagai wujud meluruskan kebijakan. Pujian hanyalah bonus bila kinerja sudah benar.

Keempat, pucuk pimpinan adalah cermin pemerintahan. Saat siswa tak lulus ujian, siapa yang salah? Guru dan pihak sekolah kan. Ketika kerja karyawan tak beres, siapa yang disalahkan? Pimpinan perusahaan tentunya. Bagaimana bila para pembantu tak becus bekerja? Tentu majikannya yang patut disalahkan. Itulah gambaran seorang pimpinan.

Presiden adalah jabatan eksklusif yang tak sebarang orang mendudukinya. Manakala para menteri lambat kinerjanya, siapa yang bersalah? Ya pucuk pimpinan tertinggi negara, yakni Presiden. Kalau menteri bekerja biasa saja, yang berhak menegur adalah Presiden. Inilah pentingnya pengawasan dari pemimpin tertinggi.

Pemimpin yang terpilih dari proses politik demokrasi memang tidak ideal. Ia dipilih karena didukung partai politk dan pemilik modal. Ia dikenal karena dipoles dengan ciitra positif yang terus dipropagandakan. Ia dipilih tidak melalui proses alami. Mereka dipilih karena unggul modal, reputasi publik, dan pencitraan. Bukan karena kualifikasi dan kompetensi yang dimiliki.

Pemimpin pilihan demokrasi dipilih berdasarkan polesan buatan. Maka dari itu, jarang kita jumpai pemimpin ikhlas dan amanah setelah duduk di singgasana. Rata-rata lupa diri karena ingin balas budi. Kebanyakan bagi-bagi kue kekuasaan setelah memenangkan kompetisi.

Jika memang ingin langkah extraordinary, bukan hanya bongkar pasang kabinet atau bikin Perppu. Coba rombak total sistem yang diterapkan hari ini. Itulah langkah extraordinary yang hakiki. Hanya saja, berani atau tidak melakukan extraordinary sistem kapitalisme yang sudah mengakar? 

(Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)



source https://www.demokrasi.co.id/2020/06/membaca-langkah-extraordinary-presiden.html

Cara Inovatif Rizal Ramli Bantu Gus Dur Bangun Ekonomi Kerakyatan Dan Keluar Dari Lilitan Utang



DEMOKRASI.CO.ID - Era kepemimpinan Presiden Kiai Haji Abdurrahman Wahid alias Gus Dur menjadi tonggak awal perekonomian Indonesia kembali bangkit dari keterpurukan pasca krisis moneter (Krismon) tahun 1998.
Sebab pada tahun 1999-2001, Gus Dur bersama kabinetnya berhasil memberikan pertumbuhan signifikan untuk Produk Domestik Bruto (PDB), sekaligus keluar dari lilitan hutang luar negeri secara perlahan.

Menteri Koordinator bidang Ekonomi, Keuangan dan Industri (Ekuin) kala itu, Dr. Rizal Ramli, menceritakan keberhasilannya membantu Gus Dur untuk menyelesaikan berbagai persoalan ekonomi tersebut.

"Pada saat itu kami menaikkan gaji pegawai negeri sipil, TNI sama pensiunan 125 persen dalam waktu 21 bulan. Belum pernah terjadi sebelumnya. Akibatnya, golongan menangah ke bawah memiliki uang cash dan 99 persen mereka membelanjakan uangnya di sektor retail," ujar sosok yang kerab disapa RR ini dalam dikusi di Jakarta, Senin (29/6).

Ia juga berhasil menyelesaikan persoalan kredit macet dari program usaha tani yang digagas Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menangah era Presiden BJ Habibie, Adi Sasono dengan jumlah Rp 26 triliun.

RR saat itu mengusulkan kepada Gus Dur untuk membebaskan utang para petani, karena kebanyakan petani hanya memiliki tanah seluas setengah hingga seperempat hektare. Penyitaan tanah dinilainya tidak akan menjadi langkah solutif untuk mengembalikan dana pinjaman.

"Waktu itu petani yang punya setengah hektare, yang punya seperempat hektare diuber-uber, mau ditangkap. Saya bilang sama Gus Dur, 'Gus, kita udah gila apa? Mau nangkep petani yang (utangnya) Rp 3-4 juta, tanahnya cuma seperempat  hektare, setengah hektare. Abis kita sita kita mau apain?' Jadi gimana Rizal (Gus Dur bertanya)? Kita hapusin saja semua, Rp 26 triliun. Loh duitnya gimana nanti buat yang lain (Gus Dur bertanya)? Ya saya carilah, itu urusan saya," RR bercerita.

Usulan tersebut kemudian dilakukan pemerintah dengan menghapus utang para petani. Ujungnya, produktifitas petani meningkat, termasuk daya beli di pedesaan.

Persoalan ekonomi lain yang juga dihadapi RR saat pemerintahan Gus Dur ialah kredit macet untuk usaha kecil, bahkan masuk kategori lima atau sangat macet. Lagi-lagi RR membuat terobosan dengan memanggil seluruh direksi bank BUMN di Indonesia.

"Saya bilang, kalau begitu kita pakai cara terobosan. Kita kasih diskon 50 persen. Saya definisikan yang kecil itu yang di bawah Rp 1 miliar (utangnya) dikasih diskon Rp 500 juta. Tapi sisanya mereka harus bayar dalam 3 bulan," terangnya.

"Dan ternyata, mumpung mereka dibebaskan dari kategori super macet, mereka jual tanahnya, jual mobil, pinjem tetangga, dia lunasin yang Rp 500 juta itu. Dirut Mandiri lapor sama saya, 'Pak kita dapet uang cash Rp 1,5 triliun', BRI Rp 1 triliun, total naik Rp 6-7 triliun. Jadi ada uang fresh lagi di bank yang bisa disalurkan," sambungnya.

Bahkan, persoalan utang luar negeri negara juga sempat diselesaiakan oleh RR. Di mana saat kepemimpinan Gus Dur, Indonesia ditagih utang yang selama 40 tahun ke belakang belum bisa diselesaikan dengan negara Kuwait.

Melalui jalur dimplomasi, mantan Kepala Bulog ini meminta negara Kuwait menurunkan bunga utangnya jika ingin dilunasi. Alhasil Kuwait setuju, san bahkan pemerintah dibangunkan Jembatan Pasopati di Bandung, Jawa Barat sebagai hadiahnya.  

"Kita kerjain (bayar utangnya) lalu dia seneng. Dia bilang, Dr. Ramli saya seneng banget, saya mau kasih kamu hadiah. Saya bilang, saya kuliah lama di Bandung, setiap saya pulang ke Bandung macetnya luar biasa. Saya ingin kamu bangunin saya flyover pasopati. 'Yes sure', dikerajain sama dia, dibangun, gratis tuh," ungkapnya.

Tak hanya dengan Kuwait, RR juga hampir berhasil melunasi utang Indonesia dengan Jerman lewat cara diplomasi. Kala itu, Jerman menagih utang Indonesia dengan menebar isu golbal warming.

Jerman kerjanya kritik kita terus, Indonesia (dibilang) tukang ngerusak lingkungan hidup, hutan dihancurin, kemudian merusak paru-paru dunia. Akhirnya saya ketemu sama menteri keuangan Jerman, kita win-win. Kenapa enggak kamu potong utang Indonesia 600 juta dolar, kita sediakan 300 ribu hektare di Kalimantan untuk konservasi," beber RR.

"Kita lakukan 4 tahap, dia setuju. Dia potong utang Indonesia 600 juta dolar kita sediakan 300 ribu konservasi. Sayangnya pemerintahan Gus Dur jatuh, kita enggak bisa lanjutin 3 tahap berikutnya," demikian Rizal Ramli. (Rmol)


source https://www.demokrasi.co.id/2020/06/cara-inovatif-rizal-ramli-bantu-gus-dur.html

Tak Ingin Jadi Gorengan Media saat Pilpres AS, Sidang Kasus George Floyd Digelar 2021

Hakim di Kota Minneapolis, Minnesota, AS, pada Senin (29/6/2020) waktu setempat, menetapkan jadwal persidangan kasus pembunuhan George FFloyd pada 8 Maret 2021.

source https://www.inews.id/news/internasional/tak-ingin-jadi-gorengan-media-saat-pilpres-as-sidang-kasus-george-floyd-digelar-2021

PSBB Transisi Diperpanjang atau Tidak, Dinkes DKI: Tunggu Rilis Gubernur

Pemerintah Proivinsi (Pemprov) DKI Jakarta belum memutuskan akan memperpanjang pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi atau tidak.

source https://www.inews.id/news/megapolitan/psbb-transisi-diperpanjang-atau-tidak-dinkes-dki-tunggu-rilis-gubernur

Tak Ingin Jadi Gorengan Media saat Pilpres AS, Sidang Kasus George Floyd Digelar 2021

Hakim di Kota Minneapolis, Minnesota, AS, pada Senin (29/6/2020) waktu setempat, menetapkan jadwal persidangan kasus pembunuhan George FFloyd pada 8 Maret 2021.

Sumber: IFTTT

PSBB Transisi Diperpanjang atau Tidak, Dinkes DKI: Tunggu Rilis Gubernur

Pemerintah Proivinsi (Pemprov) DKI Jakarta belum memutuskan akan memperpanjang pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi atau tidak.

Sumber: IFTTT

Tak Miliki Izin Tinggal, 11 WNA Pengeroyok Polisi Diperiksa Imigrasi

Sebanyak 11 warga negara asing (WNA) pengeroyok Tim Siber Polda Metro Jaya dititipkan sementara di Imigrasi Kemenkumham karena tidak memiliki izin tinggal.

source https://www.inews.id/news/megapolitan/tak-miliki-izin-tinggal-11-wna-pengeroyok-polisi-diperiksa-imigrasi

Hati-Hati, Ada Virus Jenis Baru Bernama G4 yang Juga Berpotensi Jadi Pandemi

Para peneliti di China telah menemukan jenis baru virus flu babi yang mampu memicu pandemi. Temuan itu diterbitkan dalam jurnal sains Amerika Serikat, PNAS.

source https://www.inews.id/news/internasional/hati-hati-ada-virus-jenis-baru-bernama-g4-yang-juga-berpotensi-jadi-pandemi

Tak Miliki Izin Tinggal, 11 WNA Pengeroyok Polisi Diperiksa Imigrasi

Sebanyak 11 warga negara asing (WNA) pengeroyok Tim Siber Polda Metro Jaya dititipkan sementara di Imigrasi Kemenkumham karena tidak memiliki izin tinggal.

Sumber: IFTTT

Hati-Hati, Ada Virus Jenis Baru Bernama G4 yang Juga Berpotensi Jadi Pandemi

Para peneliti di China telah menemukan jenis baru virus flu babi yang mampu memicu pandemi. Temuan itu diterbitkan dalam jurnal sains Amerika Serikat, PNAS.

Sumber: IFTTT

Kabupaten Bogor Segera Gelar Tes Covid-19 Usai Rhoma Irama Tampil di Acara Khitanan

Bupati Bogor Ade Yasin khawatir lokasi acara khitanan di Desa Cibunian, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor menjadi klaster penularan Covid-19.

source https://www.inews.id/news/megapolitan/kabupaten-bogor-segera-gelar-tes-covid-19-usai-rhoma-irama-tampil-di-acara-khitanan

WHO: Hal Terburuk dari Pandemi Covid-19 Belum Terjadi

Infeksi Covid-19 belum menunjukkan penurunan hingga bulan keenam status pandemi diberlakukan. WHO menyebut dampak terburuk dari Covid-19 belum terjadi.

source https://www.inews.id/news/internasional/who-hal-terburuk-dari-pandemi-covid-19-belum-terjadi

Minggu, 28 Juni 2020

Kapal Nelayan Filipina Tabrak Kapal Kargo China, 12 Orang Hilang di Laut

Setidaknya 12 orang Filipina hilang setelah tabrakan antara kapal penangkap ikan dan kapal kargo asing berbendera China atau Hong Kong, Minggu (28/6/2020).

source https://www.inews.id/news/internasional/kapal-nelayan-filipina-tabrak-kapal-kargo-china-12-orang-hilang-di-laut

Sudah Setengah Juta Orang Meninggal karena Wabah Virus Corona

Lebih dari setengah juta orang telah meninggal karena wabah virus corona di seluruh dunia. Hampir dua pertiga dari mereka berada di Amerika Serikat dan Eropa.

source https://www.inews.id/news/internasional/sudah-setengah-juta-orang-meninggal-karena-wabah-virus-corona

Kapal Nelayan Filipina Tabrak Kapal Kargo China, 12 Orang Hilang di Laut

Setidaknya 12 orang Filipina hilang setelah tabrakan antara kapal penangkap ikan dan kapal kargo asing berbendera China atau Hong Kong, Minggu (28/6/2020).

Sumber: IFTTT

Sudah Setengah Juta Orang Meninggal karena Wabah Virus Corona

Lebih dari setengah juta orang telah meninggal karena wabah virus corona di seluruh dunia. Hampir dua pertiga dari mereka berada di Amerika Serikat dan Eropa.

Sumber: IFTTT

Bamsoet Minta Pemda Tak Beri Toleransi Pelanggar Protokol Kesehatan Covid-19

Ketua MPR Bambang Soesatyo meminta Pemda tak memberi toleransi pelanggar protokol kesehatan Covid-19 di tengah meningkatnya jumlah pasien positif corona.

Sumber: IFTTT

Jokowi Marah-marah, Gde Siriana: Omongan Erick Thohir Soal Kabinet Terbukti


DEMOKRASI.CO.ID - Kemarahan Presiden Jokowi kepada para menteri dan pimpinan lembaga di Kabinet Indonesia Maju mengungkap sederet bukti.

Salah satunya adalah, bahwa kabinet Jokowi-Ma’ruf tidak seluruhnya diisi oleh orang-orang berkapasitas mumpuni.

Demikian disampaikan Direktur Indonesia Future Studies (Infus) Gde Siriana Yusuf, Minggu (28/6/2020).

“Reaksi kecewa Jokowi dan juga ketidakpuasan masyarakat atas kinerja kabinet, terutama dalam masa Covid-19 ini, menjadi bukti bahwa kabinet Jokowi bukan diisi oleh orang-orang yang tepat,” ujarnya.

Gde Siriana menyebut, hal ini menunjukkan bahwa orang-orang yang ada di kabinet bukan semuanya orang yang semestinya.

“Kabinet tidak diisi oleh the right man,” sambungnya.

Selain itu, juga seperti membenarkan bahwa kepala negara tidak berdiri absolut saat menyusun kabinet yang akan membantunya bekerja.

Akan tetapi, pemilihan para anak buah Jokowi itu dilakukan atas dasar ‘titipan’.

“Jokowi dalam konteks real politic, tidak memiliki hak mutlak untuk mengangkat menteri. Tetapi berdasarkan kesepakatan dari parpol pengusung,” jelasnya.

Juga semakin menguatkan dugaan, sambungnya, bahwa ada campur tangan pemodal politik.

Yakni mereka yang ikut membiayai perjalanan Jokowi untuk memenangkan pilpres lalu ikut mengintervensi.

“Ada juga sponsor pendana pilpres 2019 yang mengajukan nama-nama menteri, tetapi sebenarnya orang yang diajukan tidak memiliki kapasitas,” katanya.

“Ini sesuai dengan apa yang dikatakan Erick Thohir bahwa Jokowi memilih menteri dari orang yang berkeringat,” beber Gde.

Jika kemudian dilakukan reshuffle lagi, sambungnya, maka dalam dua periode Jokowi selalu ada reshuffle.

Yang artinya, Jokowi tidak punya leadership.

“Selain kerja kabinet tidak efektif karena selalu ada reshuffle, juga para menteri tidak bisa mengikuti arahan Jokowi yang sering berubah-ubah atau dianggap Jokowi tidak punya visi yang jelas,” urainya.

“Atau yang lebih parah lagi, para menteri ini lebih takut kepada parpol atau sponsornya ketimbang takut kepada Jokowi,” pungkas Gde Siriana.

Presiden Jokowi marah-marah dan meluapkan kekecewaannya terhadap jajaran menteri dan pimpinan lembaga terjadi dalam Sidang Kabinet Paripurna yang digelar secara tertutup pada 18 Juni 2020 lalu.

Video itu akhirnya diunggah melalui akun Sekretariat Presiden pada Minggu (28/6/2020) agar bisa dilihat masyarakat luas.

Dalam kesempatan itu, Jokowi menekankan agar semua anak buahnya bekerja dengan luar biasa agar bisa menangani krisi luar biasa ini.

“Jangan biasa-biasa saja, jangan linear. Jangan menganggap ini normal. Bahaya sekali,” tegasnya lagi dengan nada yang terus meninggi.

Bahkan, Jokowi seperti tak bisa lagi menyembunyikan kejengkelannya lagi.

Hal itu terkait sikap anggota kabinet yang seperti tak memiliki perasaan dengan kondisi yang melanda Indonesia saat ini.

“Saya jengkelnya di situ. Ini apa enggak punya perasaan?” heran Jokowi.

Bahkan, orang nomor satu di Indonesia itu terang-terangan bisa saja melakukan perombakan pos-pos tertentu yang dinilai tak memiliki progres signifikan.

“Bisa saja membubarkan lembaga, bisa saja reshuffle, sudah kepikiran kemana-mana saya,” ancam Jokowi.

(rmol/ruh/pojoksatu)

Sumber:https://ift.tt/2YEOako

Kau yang Berjanji Kau yang Mengingkari, Jengkelnya Bupati Bogor pada Rhoma Irama


DEMOKRASI.CO.ID - Rhoma Irama ingkar janji dan tetap manggung di acara sunatan di Desa Cibunian, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Minggu (28/6/2020).

Terkait hal itu, Bupati Bogor Ade Yasin mengaku kecewa karena Rhoma Irama sudah ingkar janji.

Ade Yasin pun memastikan, tindakan tegas akan diambil terkait ingkarnya si raja dangdut itu.

“Gugus Tugas akan mengambil langkah tegas, karena khawatir hal tersebut menjadi preseden buruk bagi masyarakat lainnya,” ujar Ade Yasin kepada Antara, Minggu (28/6/2020).

Ia menyatakan, pelarangan penyelenggaraan konser seperti itu di tengah wabah Covid-19, jelas-jelas dilarang.

Itu tertuang dalam Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 35 Tahun 2020, yang mengatur berbagai macam ruang lingkup.

Rhoma Irama memenuhi undangan manggung di Pamijahan, Kabupaten Bogor

Yaitu level kewaspadaan daerah, penetapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) proporsional secara parsial sesuai kewaspadaan daerah, serta protokol kesehatan dalam rangka adaptasi kebiasaan baru (AKB).

Apalagi, tegas Ade Yasin, Kecamatan Pamijahan adalah salah satu dari 29 kecamatan di Kabupaten Bogor yang berstatus zona merah.

Berdasarkan catatan, di wilayah tersebut, terdapat satu pasien Covid-19 dan 12 pasien dalam pengawasan (PDP) yang berstatus aktif.

Saat ini, pihaknya sudah mengutus petugas gabungan untuk menyampaikan surat peringatan kepada Surya Atmaja, warga yang mengundang Rhoma Irama sebagai bintang tamu hajatan sunatan anaknya.

Rhoma Irama sempat memberikan klarifikasi terkait kabar konser Soneta Group di daerah Pamijahan, Bogor, yang digelar hari ini, Minggu (28/6).

Melalui video yang diunggah di akun media sosialnya, Rhoma menyatakan jadwal manggung tersebut merupakan undangan salah seorang warga untuk acara khitanan di sana.

Namun, lantaran pandemi Covid-19 belum usai, terlebih karena tidak mendapat izin dari Pemerintah Kabupaten Bogor, jadwal manggung tersebut dibatalkan.

Adapun terkait pembatalan ini, pihaknya tidak mempermasalahkannya. Ia bahkan menghimbau masyarakat untuk mengikuti aturan yang sudah ditetapkan pemerintah.

“Oleh karena itu, kepada fans Soneta, Forsa, dan masyarakat sana, dimohon dimaklumi kalau Soneta tidak bisa tampil nanti pada 28 Juni,” katanya.

Pendiri Partai Idaman ini berjanji akan kembali tampil jika memang kondisi telah mereda.

“Insya Allah kalau sudah mereda, kembali aman, kembali kondusif pasti Pak Surya akan melanjutkan niatnya menampilkan (Soneta Group di Pamijahan,” jelasnya.

Rhoma juga mengajak masyarakat untuk menghormati dan menghargai anjuran pemerintah di tengah wabah Covid-19 ini.

“Mari kita semua harus menghormati, menghargai anjuran pemerintah dimana tidak boleh mengadakan keramaian pada saat Covid-19, ya masih mewabah,”

“Demikian maklumat dari saya mohon dimaklumi,” pungkasnya. [ps]

Sumber:https://ift.tt/2B9JsCv